Mengasah Kemandirian Perempuan
Rina masih dalam masa berkabung. Ayahnya baru saja meninggal karena serangan jantung, sedangkan ibunya sudah 4 tahun yang lalu dipanggil Allah. Kematian sang ayah membuatnya terpukul, mengingat ayah Rina adalah tulang punggung keluarga dan satu-satunya sumber pencari nafkah. Kini label tulang punggung keluarga itu berpindah pada dirinya, karena masih ada dua adiknya yang duduk di bangku SMP dan adik bungsunya di SD. Ia harus berpikir keras bagaimana ia bisa menghidupi kedua adiknya, sedangkan ia baru diwisuda dan belum mendapatkan pekerjaan. Ia termenung melihat buku tabungan yang dimilikinya sisa simpanan sewaktu kuliah dan mengecek simpanan peninggalan ayahnya, yang sepertinya simpanan tersebut hanya cukup untuk beberapa waktu saja karena beberapa tunggakan keluarga yang harus ia tutupi. Sekarang Rina menyesal, kenapa tidak dari dulu ia belajar mandiri dan tidak menggantungkan sepenuhnya kebutuhan hidup pada ayahnya.
Cerita diatas tentu sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian tersebut bisa menimpa siapa saja termasuk teman terdekat atau malah salah satu keluarga besar kita.
Dalam Islam, pemenuhan kebutuhan moriil dan materiil seorang perempuan terletak pada suaminya. Namun setiap insan manusia juga diwajibkan untuk tidak berpangku tangan, termasuk seorang perempuan.
Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi esok. Hari ini mungkin para suami masih bisa menghidupi istri dan keluarga mereka, tetapi belum tentu dengan hari esok.
Mandiri bukan berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan campur tangan orang lain dalam proses hidupnya. Dibutuhkan peran orang lain dalam porsi sewajarnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial  yang saling bersimbiosis mutualisme.
Kemandirian memang bukan perkara yang mudah, namun banyak cara untuk memupuk karakter tersebut, salah satunya dengan menggali potensi dirinya dalam berkreativitas, karena pada dasarnya setiap permasalahan memerlukan kemandirian  & cara–cara yang kreatif untuk menyeleseikannya. Semakin banyak permasalahan yang bisa diatasi & semakin besar kebutuhan yang harus dipenuhi, maka semakin terasahlah kreativitas dalam diri seseorang.
Konsep hidup mandiri juga sejalan dengan prinsip “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya”. Bagaimana seseorang bisa bermanfaat untuk orang lain, sedangkan ia tak mampu memenuhi kebutuhannya atau dengan kata lain belum bermanfaat untuk dirinya sendiri.
Ingin sedekah materi, berarti harus punya uang dulu.
Ingin sedekah wawasan, berarti harus punya ilmu pengetahuan & pengalaman dulu.
Ingin sedekah tenaga, berarti harus sehat dulu.
Allah memberi akal kepada hamba Nya, supaya akal tersebut  digunakan untuk menggali potensi dalam dirinya sebagai bentuk rasa syukur. Dalam prosesnya dibutuhkan visi yang akan mengarahkan tujuan hidup kita untuk tidak berpangku tangan lalu menjadi beban orang lain. Akan tetapi visi tersebut bertujuan untuk mensejahterahkan orang lain. Asal dalam pencapaian proesesnya sesuai syariat Allah SWT, misalnya menjaga kehalalan, tidak merugikan orang lain, menjaga diri dari system riba’ dan sebagainya. Sehingga untuk kedepan mampu bersedekah baik materi, ilmu maupun tenaga. Sedekah juga dapat memotivasi diri untuk lebih mandiri agar mampu menghasilkan sesuatu yang mudah dinikmati orang lain.
Usaha pun tidak harus bermodal besar, pikirkanlah untuk mengerjakan sesuatu yang kecil dulu. Misalnya, jika suka memasak, asah lagi ketrampilan meramu resep lalu bukalah catering kecil-kecilan dan tawarkan pada tetangga terdekat atau saudara. Atau beberapa hobi lain yang jika diasah dengan tekun akan menghasilkan keuntungan. Mulailah dengan yang kecil untuk target yang lebih besar.
Perempuan yang berkarakter mandiri biasanya mempunyai beberapa ciri khas, antara lain:
  •  Mudah bangkit ketika menghadapi musibah
  • Tak mudah menyerah untuk selalu belajar menambah wawasan
  • Selalu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya
  • Berusaha memberi manfaat untuk orang lain
Di sisi lain, ujian dalam rumah tangga juga mejadi salah satu alasan kenapa seorang perempuan harus mandiri. Alasan tersebut membuat seorang perempuan untuk tidak semena-mena menggantungkan pencarian nafkah ke suami atau keluarga. Namun perlu ditekankan pula, bahwa seorang perempuan yang mampu mandiri secara materi tetap wajib hormat kepada suami dan keluarga.
 “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)Nya.” (QS An Nisa : 9)
Perempuan tidak boleh pasrah terhadap masalah. Harus berani mengambil keputusan disaat sulit, bersikap tegar disaat ujian menyapa, mencari solusi ketika keruwetan hidup di depan mata, dan mampu bersikap tegas ketika dilema melanda.
 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah:186)
 “Dan Tuhanmu berfirman, ‘berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’. Sesungguhnya orang yang menyombongkan diri dari menyembah Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina“’  (QS. Al Mu’min ; 60)
Berdoa adalah salah satu kunci untuk memupuk karakter mandiri, berdolah supaya Allah senantiasa mencurahkan sifat-sifat kemandirian kepada hamba Nya yang berusaha. Karena berdoa adalah senjata orang-orang beriman.
Maka untuk perempuan, tetaplah berdoa dan menggali potensi serta menambah wawasan pengetahuan. Allah akan meridhai selama cara-cara yang ditempuh sesuai tuntunan Nya.

Sumber : fimadani.com